Ambrosius Pan: SMAN 1 Fatuleu Ada Karena Dukungan Masyarakat, Terapkan Manajemen Partisipatif
Saat Awal Pendirian, Sempat Gelar KBM di Bawah Pohon
SMAN 1 Fatuleu di Kuimasi, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang didirikan pada tahun 2006. Saat itu, karena belum memiliki ruang kelas, pihak sekolah menggunakan sejumlah ruang kelas di SMPN 1 Fatuleu, sekira 2 kilometer dari lokasi SMAN 1 Fatuleu saat ini, untuk melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pelaksanaan KBM yang bertempat di SMPN 1 Fatuleu berlangsung selama hampir 3 tahun.
Pada 2009, meski di lokasi SMAN 1 Fatuleu baru terdapat 2 ruang kelas, 1 ruang tata usaha, dan 1 ruang guru, pelaksanaan KBM sudah berlangsung di lokasi milik sendiri. Meski jumlah ruangan masih sangat terbatas untuk sejumlah lebih dari 300 murid saat itu, pihak sekolah memutuskan untuk tetap menggelar KBM memanfaatkan 4 ruangan yang ada.
Drs. Ambrosius Pan, M.Pd., Kepala SMAN 1 Fatuleu saat ini mengakui, dirinya bersama kepala sekolah saat itu dan para guru nekat untuk menggelar KBM di lokasi sendiri karena bermaksud untuk menghindari sejumlah persoalan yang sering muncul antara anak didik mereka dengan para murid SMP, terutama persoalan yang berkaitan dengan kebersihan dan kerapian kelas.
Kepala SMAN 1 Fatuleu, Ambrosius Pan (mengenakan peci) bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Provinsi NTT, Linus Lusi (kedua dari kiri) dan Mantan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas PK Provinsi NTT, Robby Ndun (pertama dari kiri) serta mantan Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas PK Provinsi NTT, Mathias Beeh (keempat dari kiri).
“Saat masih pinjam ruangan di SMP, kita mulai sekolah dari jam 12 siang hingga jam 5 sore. Akibatnya, selalu ada soal terkait kebersihan dan kerapian kelas di hari berikutnya. Kita dan teman-teman guru di SMP jaga supaya jangan ada soal besar, makanya kita putuskan untuk KBM di lokasi kita sendiri meski ruangan masih sangat terbatas.” cerita Ambrosius kepada media ini beberapa waktu lalu.
Ambrosius juga mengakui, keputusan mereka untuk pindah lokasi sekolah juga merupakan bagian dari strategi untuk mendapatkan perhatian dari pihak Komite Sekolah serta Pemerintah. Karena itu, selama 2 tahun pertama , banyak guru yang menggelar KBM di luar ruangan kelas. Bersama para murid, mereka belajar di bawah pepohonan besar yang rindang. 4 ruangan yang ada digunakan oleh guru yang lebih dulu tiba.
“Setelah pindah ke sini, kita jadi berusaha untuk cari jalan keluar. Akhirnya pada 2011, para orang tua melihat bahwa guru sudah ada hanya gedung yang belum mendukung sehingga mereka kemudian melakukan pertemuan bersama pihak sekolah untuk mencari jalan keluar.” cerita Ambrosius.
Dalam pertemuan bersama para orang tua siswa, cerita Ambrosius yang saat itu sudah menjabat wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, para orang tua melalui wadah komite sekolah siap untuk membangun 4 ruangan. Bersama pengurus komite, Ambrosius dan kepala sekolah juga membangun komunikasi dengan Ayub Titu Eki, Bupati Kupang saat itu, sehingga mereka mendapatkan bantuan besi beton dan seng untuk mendukung pembangunan 4 ruangan tersebut.
Komunikasi dengan berbagai pihak terus mereka lakukan sehingga dalam tahun itu juga (2011), mereka mendapatkan tambahan 3 ruangan dari PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat), dan 2 ruang kelas dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang.
“2 ruang dari Pemkab Kupang itu seharusnya ke salah satu titik di Amarasi, tetapi karena secara prioritas mungkin kita punya yang skalanya tinggi makanya kita yang dapat saat itu.” jelas Ambrosius.
Ambrosius melanjutkan, sementara pengerjaan ruang kelas dari bantuan komite, PNPM, dan Pemkab dikerjakan, mereka juga membuat proposal dan berkomunikasi dengan pihak yang memiliki akses ke kementerian terkait untuk mendapatkan tambahan ruang kelas.
“Ternyata permohonan kita direspon. Selang 1 tahun, pada 2012, kita dapat bantuan 8 ruang kelas dan juga laboratorium.” cerita Ambrosius.
Ambrosius menambahkan, dalam perjalanan SMAN 1 Fatuleu hingga saat ini, kolaborasi dan kerja sama pihak sekolah dengan komite memungkinkan sekolah untuk mendapatkan banyak perhatian dari Pemerintah. Hingga 2022, kata Ambrosius, Pemerintah Provinsi NTT juga telah ikut membantu pendirian sejumlah bangunan sehingga saat ini SMAN 1 Fatuleu sudah memiliki 25 ruang kelas, 3 ruang laboratorium, dan 3 gedung untuk WC.
“Untuk WC, ada sejumlah ruang pada tiap gedung itu, tetapi jika dijumlahkan dengan ruang WC yang dibangun sendiri oleh komite dengan yang sudah kami bangun sendiri memanfaatkan sisa anggaran dari beberapa bangunan yang dikerjakan secara swakelola selama ini, kami punya 22 kamar WC saat ini.” jelas Ambrosius.
Terapkan Manajemen Terbuka Kepada Masyarakat
Ambrosius Pan menjelaskan, sejak awal, SMAN 1 Fatuleu hadir karena ada permintaan dari masyarakat yang sudah merasakan senang dan susahnya anak-anak mereka saat belajar di SMAN 1 Kupang Timur yang jaraknya relatif jauh.
“Masyarakat minta ada sekolah yang dekat karena, mereka memang sudah merasakan bagaimana keberhasilan anak-anak mereka saat belajar di SMAN 1 Kupang Timur, tetapi banyak juga yang sekolahnya terganggu atau gagal karena soal jarak. Sehingga masyarakat merasa kehadiran SMA di kecamatan Fatuleu sangat penting saat itu.” jelas Ambrosius.
Ambrosius bercerita, masyarakat yang punya inisiatif mendirikan SMA akhirnya duduk bersama dan menyatukan konsep. Perwakilan dari mereka kemudian menemui Keluarga Besar Mambait sebagai pemegang hak ulayat atas tanah di sekitar lokasi rencana pendirian bangunan sekolah.
“Keluarga besar Mambait dengan segala semangat dan antusias juga ikut mendukung sehingga mereka memberikan lahan yang kini menjadi lokasi SMAN 1 Fatuleu. Luasnya kurang lebih 3 hektar.” cerita Ambrosius.
Para murid yang bergabung dalam Persekutuan Siswa Kristen (Persiten) sementara mengikuti ibadat yang rutin digelar.
Masyarakat yang punya inisiatif mendirikan sekolah, lanjut Ambrosius, ternyata juga memiliki partisipasi yang aktif dalam mendukung berbagai proses pengembangan sekolah sehingga sampai saat ini, pihak sekolah berusaha untuk menerapkan manajemen sekolah yang partisipatif dan terbuka kepada masyarakat. Karena itu, Kata Ambrosius, masyarakat melalui komite sekolah juga memiliki fungsi kontrol dan pengawasan terhadap penyelenggaraan sekolah.
“Misalnya ada sesuatu yang kurang beres di sekolah, maka masyarakat berani mendatangi guru atau pihak sekolah untuk menyampaikan apa yang menjadi harapan mereka. Jadi kita di sekolah berusaha untuk akomodir semua. Niat baik dan pikiran positif masyarakat melalui komite sekolah selalu kita apresiasi dan akomodir.” jelas Ambrosius.
Ambrosius mencontohkan, salah satu pikiran positif dari komite yang diapresiasinya adalah upaya pihak komite untuk membuat gedung komite yang kualitasnya setara dengan yang dibangun oleh pemerintah. Sebab, masyarakat menginginkan agar bangunan sekolah yang dibangun memiliki kualitas yang baik dalam jangka waktu yang panjang.
Ambrosius menyampaikan, pihak sekolah juga menjalin kerjasama yang erat dengan masyarakat sehingga segala hal yang berkaitan dengan persoalan tertentu yang melibatkan murid tertentu, termasuk sejumlah kekurangan sekolah, didiskusikan secara rutin dengan orang tua.
Pertemuan rutin bersama orang tua, jelas Ambrosius, selalu dilakukan pada awal tahun pembelajaran, saat sekolah menggelar acara natal bersama, dan saat akhir tahun pembelajaran ketika pihak sekolah melakukan pembagian laporan hasil belajar.
“Pada awal tahun pembelajaran itu kami sosialisasikan visi dan misi serta berbagai program sekolah. Kita diskusikan bersama guru, pegawai, dan juga orang tua murid. Karena saya sebagai kepala sekolah wajib menyampaikan itu di awal tahun. Kemudian pada pertemuan akhir tahun itu, semacam evaluasi kami pihak sekolah bersama para orang tua murid.” jelas Ambrosius.
Punya 3 CGP, Juga Kolaborasi dengan Pihak Luar
SMAN 1 Fatuleu saat ini memiliki 3 Calon Guru Penggerak (CGP) yang sementara mengikuti Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 4 tahun 2022. Sebelum tahun 2023 nanti, proses PGP Angkatan 4 yang selama ini diikuti dengan baik oleh 3 CGP tersebut sudah selesai sehingga mereka sudah pasti akan menjadi guru penggerak di SMAN 1 Fatuleu. Mereka bertiga adalah Aurelius Usa Naing, S.Si,.MM., Medi Yourge Expreso Doko, S.Si., dan Yakobus Tipo, S.Pd.
Ketiga CGP bersama Kepsek Ambrosius Pan (kedua dari kiri) saat mengikuti salah satu kegiatan lokakarya Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 Kabupaten Kupang beberapa waktu lalu.
Meski masih berstatus CGP, seperti yang diakui Ambrosius Pan ketika memberi sambutan dalam pelaksanaan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Matematika Kabupaten Kupang di SMAN 1 Fatuleu beberapa waktu lalu, 3 guru tersebut telah memberi warna dan perubahan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Sesuai pengamatannya saat supervisi kelas, kata Ambrosius saat itu, pembelajaran yang dilaksanakan oleh para CGP di sekolahnya menempatkan murid sebagai prioritas sehingga suasana kelas menjadi sangat baik.
Saat ini, diluar rutinitas KBM, ketiga CGP juga terlibat aktif bersama para guru dan wali kelas dalam melaksanakan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada setiap hari Sabtu. P5 merupakan kegiatan kokurikuler yang berkaitan dengan usaha pihak sekolah dalam membentuk kompetensi dan karakter para murid sesuai dengan profil pelajar Pancasila sehingga pihak SMAN 1 Fatuleu saat ini berusaha melaksanakan P5 dalam 8 tema, diantaranya; Kearifan Lokal, Iman dan Ketaqwaan, Bhineka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raga, Suasana Demokrasi, dan Kewirausahaan.
Pada kegiatan P5 bertema kewirausahaan, pihak sekolah berusaha untuk mengintegrasikannya dengan beberapa kegiatan vokasi akademik yang sudah mereka jalankan selama ini yakni penanaman ratusan pohon pisang, terong, serta tanaman hortikultura dan sayuran yang semuanya ada di dalam kompleks sekolah. Sebelumnya, ada guru yang pernah bersama murid-muridnya berhasil membuat jus kelor dan beberapa olahan makanan lokal lainnya sehingga saat ini pihak sekolah melalui kepanitiaan yang melaksanakan kegiatan P5 berupaya agar pembuatan produk berbahan lokal juga masuk dalam kegiatan kewirausahaan. Terbukti pada pertengahan September 2022, puluhan liter minyak kelapa dihasilkan oleh 282 murid kelas X yang saat itu melaksanakan kegiatan P5 bertema kewirausahaan. Puluhan liter minyak tersebut laris terjual dengan harga Rp.20 ribu untuk setiap botol berukuran 650 ml.
Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum, Aurelius Usa Naing, S.Si., MM., yang mengetuai kepanitiaan P5 bertema kewirausahaan menjelaskan, mengenai sumber daya dan produk pada kegiatan kewirausahaan, pihak sekolah mengarahkan para murid untuk membuat minyak kelapa karena disesuaikan dengan potensi lokal yang ada di sekitar sekolah sehingga pihak sekolah juga akan melibatkan guru kimia dalam membuat minyak kelapa murni (VCO, Virgin Coconut Oil) pada kegiatan semacam. Selain memanfaatkan potensi lokal yang berlimpah, beberapa bahan pangan lokal dan sayuran juga ditanam di kebun sekolah sehingga hasilnya tentu akan dimanfaatkan dalam pelaksanaan kegiatan kewirausahaan bersama para murid.
Program P5 dilaksanakan secara konsisten oleh para CGP bersama para guru di SMAN 1 Fatuleu.
Menariknya, dalam mendukung pelaksanaan kegiatan-kegiatan kokurikuler di lingkungan sekolah, pihak sekolah juga membangun kerjasama dengan pihak luar. Misalnya saat pelaksanaan kegiatan P5 bertema kewirausahaan pada pertengahan September 2022, pihak panitia juga menjalin kerja sama dengan pihak masyarakat yang memiliki usaha mol kelapa sehingga selain para murid dimudahkan, masyarakat yang terlibat juga ikut senang dan mendukung kegiatan sekolah. Bahkan, jauh hari saat P5 masih pada tahap perencanaan, pihak sekolah mengutus Wakasek Bagian Kurikulum bersama Wakasek Bagian Kesiswaan dan salah satu guru yang menjadi anggota pada bagian kurikulum untuk melakukan studi tiru pada awal tahun pembelajaran 2022/2023 ke salah satu sekolah penggerak di Kota Kupang untuk belajar mengenai pelaksanaan P5.
Sebenarnya, jauh hari sebelum pelaksanaan P5, pihak sekolah juga sering berkolaborasi dengan berbagai pihak dari luar. Seperti, sejak 2 tahun terakhir, SMAN 1 Fatuleu telah bekerjasama dengan salah satu pengajar dari Sekolah Pertanian Pembangunan Negeri Kupang (Snakma) untuk menjadi instruktur bagi para murid dalam membuat pupuk organik seperti pupuk kompos dan bokashi, termasuk pembuatan pestisida dan obat hama sehingga keterampilan budidaya tanaman sejak awal penanaman hingga penanganan hama dan perawatan lanjutannya juga diharapkan dikuasai oleh para murid.
“Kita mendapat perhatian dari program bantuan pemerintah pusat karena mereka melihat potensi yang diandalkan sekolah adalah tanaman hortikultura. Karena itu kita kerjasama dengan Ir. Piet Sanaunu dari Snakma untuk membekali anak-anak kita.” jelas Ambrosius yang menambahkan, dirinya dan rekan-rekan guru dan pegawai di SMAN 1 Fatuleu memang tidak menutup diri untuk selalu berkolaborasi dan bekerjasama dengan berbagai pihak terkait dari luar sekolah untuk mendukung para murid dalam pelaksanaan berbagai kegiatan di sekolah, baik yang sifatnya intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
Banyak Kegiatan Ekstrakurikuler, Sekolah Dukung Murid Ikut Berbagai Lomba dan Pertandingan
Partisipasi dan dukungan orang tua yang positif juga sejalan dengan semangat para guru dan pegawai dalam penyelenggaraan kegiatan sekolah di SMAN 1 Fatuleu. Karena itu, dalam keseharian kegiatan di sekolah, moto yang diusung oleh sekolah berusaha diterapkan bersama sehingga para guru dan pegawai selalu bersemangat untuk memiliki integritas, etos kerja yang baik, serta gotong royong yang tumbuh dalam interaksi antar warga di lingkungan sekolah.
Berkaitan dengan semangat kerja, diantaranya adalah upaya pihak sekolah untuk secara konsisten menggelar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tepat pada pukul 07.15 dan berakhir pada pukul 01.45. Untuk menegakkan disiplin murid dalam mengikuti KBM, murid dinyatakan terlambat jika hadir setelah lewat pukul 07.15.
“Kalau anak terlambat, kami tidak beri sanksi. Kami hanya mencatat namanya supaya kalau dalam satu minggu sudah 3 kali terlambat atau lebih, kami panggil orang tuanya.” jelas Ambrosius.
Ambrosius juga menjelaskan, sebagian besar masalah yang berkaitan dengan keterlambatan para murid selalu terjadi pada hari Sabtu karena bertepatan dengan adanya pasar Lili sehingga murid yang berasal dari wilayah Camplong atas harus berganti kendaraan sebelum tiba di sekolah.
“Makanya hari Sabtu itu banyak murid yang terlambat. Tetapi tidak lewat jam 8 pagi. Paling lambat itu jam 7.45 mereka sudah tiba di sekolah. Hari yang lain relatif tertib.” jelas Ambrosius.
Saat ini, selain sekolah memiliki agenda untuk menumbuhkan budaya disiplin pada para murid, sekolah juga memastikan untuk memaksimalkan berbagai kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler agar murid memiliki prestasi yang baik.
Pihak sekolah tidak hanya membentuk prestasi dalam bidang akademik melalui kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler. Para murid yang memiliki kemampuan dalam mata pelajaran tertentu juga diikutkan oleh sekolah dalam berbagai kegiatan olimpiade maupun perlombaan pada setiap tahun.
“Kita dukung anak-anak untuk berprestasi secara akademis sehingga selalu ikutkan mereka pada kegiatan olimpiade sains. Dan hasilnya, kita tidak kalah bersaing dengan sekolah lainnya. Bahkan sekolah kita memiliki prestasi yang baik di tingkat Kabupaten Kupang.” jelas Ambrosius.
Anggota Pramuka di SMAN 1 Fatuleu cukup aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang difasilitasi oleh sekolah.
Pada kegiatan ekstrakurikuler, pihak sekolah ikut memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kepemimpinan mereka melalui kegiatan Pramuka. Selain pelatihan kepramukaan yang digelar secara rutin, pihak sekolah melalui para Pembina Pramuka juga rutin memfasilitasi kegiatan Perkemahan Jumat Sabtu Minggu (Perjusami) dan camping bagi para anggota Pramuka. Perjusami digelar di lingkungan sekolah, sementara camping lebih banyak dilaksanakan di luar lingkungan sekolah. Biasanya Perjusami dan camping dilaksanakan pada awal tahun pembelajaran, sepaket dengan kegiatan adaptasi lingkungan sekolah bagi murid baru, dan juga pada setiap akhir semester ganjil.
Selain Pramuka, para murid diberi ruang untuk mengembangkan kepemimpinan mereka melalui kegiatan ibadat rutin bagi murid beragama Kristen dalam kelompok yang dinamai Persisten (Persekutuan Siswa Kristen) serta sejumlah kegiatan yang dikelola oleh Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK). Sekolah ikut membentuk budaya demokrasi murid melalui keberadaan OSIS dan MPK dengan segala geliat kegiatan dan dinamika yang menyertainya.
Berbagai jenis lomba dan pertandingan antar kelas juga rutin digelar oleh pihak sekolah. Para murid memiliki ruang dan kesempatan untuk berekspresi dalam bidang seni dan budaya. Selain seni suara, kegiatan favorit yang diikuti para murid adalah menari. Para murid yang bergabung dalam sanggar tari rajin berlatih. Mereka dilatih oleh guru yang terampil.
Para murid yang sering berlatih tari juga sering diikutkan dalam berbagai lomba. Bahkan pada 2019 lalu, salah satu murid atas nama Rilla Anastasia pernah mewakili sekolah menampilkan tari kipas dalam acara yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di Jakarta.
Pihak sekolah mendukung tim tari mengikuti berbagai perlombaan.
Dalam tahun ini (2022) saja, tim tari dari SMAN 1 Fatuleu memperoleh 2 kali juara 2 dalam 2 kegiatan berbeda. Yang pertama, saat para murid yang mengikuti lomba menampilkan tari kreasi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak Museum Daerah Provinsi NTT. Sebelumnya, pada April lalu ketika tim tari berpasangan mengikuti Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang digelar Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten kupang di Amfoang Timur. Saat FLS2N tersebut, tim dari SMAN 1 Fatuleu yang mengikuti lomba debat bahasa indonesia juga memperoleh juara 1.
Dalam bidang olahraga, SMAN 1 Fatuleu juga memiliki prestasi. Tim dari SMAN 1 Fatuleu sering mengikuti pertandingan bola kaki dan bola voli yang dilaksanakan oleh pihak pemerintah melalui dinas terkait ataupun oleh pihak perguruan tinggi tertentu. Tahun ini saja (2022), pihak sekolah mengikutkan tim putra dan putri mereka dalam 5 turnamen bola kaki, futsal, maupun Voli.
Sekolah mendukung para murid mengikuti berbagai pertandingan dan turnamen dalam bidang olahraga.
Saat mengikuti Liga Pelajar tingkat Rayon 8 Kecamatan Fatuleu pada akhir Mei 2022, masing-masing tim bola kaki putra dan putri dari SMAN 1 Fatuleu memperoleh juara 1. Dalam seleksi lanjutan pada Juni, masing-masing tim bola kaki putra dan putri itu hanya masuk pada babak 8 besar saat Liga Pelajar yang digelar MKKS SMA Kabupaten Kupang itu diselenggarakan pada level kabupaten. Meski begitu, ada anggota tim bola kaki putra dari SMAN 1 Fatuleu yang ikut mengisi formasi pemain pada tim bola kaki pelajar SMA Kabupaten Kupang dalam gelaran Liga Pelajar tingkat Provinsi NTT.
Pihak sekolah juga mengikutkan tim bola kaki putra pada kegiatan Faperta Cup pada akhir September 2022. Meskipun tim bola kaki yang diikutkan itu tidak lolos pada babak penyisihan dalam kegiatan yang digelar pihak Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Nusa Cendana (Undana) itu, pihak sekolah tetap memiliki semangat untuk mendukung para murid mengikuti berbagai lomba dan pertandingan dalam bidang olahraga yang diselenggarakan berbagai pihak. Misalnya pada awal Oktober 2022, meskipun tim futsal putri yang mengikuti turnamen Atlanta Futsal Championship 2022 tidak lolos saat babak penyisihan, dalam minggu yang sama, tim voli putra tetap diikutkan pada turnamen yang digelar pihak Politeknik Kesehatan Kupang. Mereka mendapatkan juara 4 saat itu. Sementara 2 tim yang mengikuti lomba PBB dan Senam SKJ Pelajar tingkat Kabupaten Kupang beberapa hari setelahnya sama sekali tidak mendapatkan juara.
Meskipun anggaran dikeluarkan dalam jumlah yang relatif besar untuk mengikutkan murid dalam setiap kegiatan lomba dan pertandingan, apapun kegiatan lomba dan pertandingan yang bisa diikuti para murid, sekolah siap untuk mendukung dan memfasilitasi mereka. Sebab, bagi pihak sekolah, kalah atau tidak mendapatkan juara bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan. Bukan hanya soal kemenangan yang ingin dicari, karena pembentukan mental sportif, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, kerja sama, dan watak positif lainnya yang sebenarnya menjadi tujuan utama dari keikutsertaan murid dalam berbagai lomba dan pertandingan.
Air Bersih Jadi Masalah Utama
Dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan sekolah, dengan jumlah murid lebih dari 800 orang, tentu saja selalu ada masalah yang muncul, terutama berkaitan dengan upaya pihak sekolah dalam membentuk watak baik para murid.
Karena para murid yang datang dari beragam suku, budaya, dan agama memiliki karakter yang berbeda, selalu saja ada soal-soal kecil yang muncul dalam interaksi baik antara guru dan murid maupun antara sesama murid. Anak-anak yang keras kepala dan susah diatur, yang tidak disiplin, yang membantah dan melawan guru, dan berbagai soal khas anak remaja termasuk seperti yang sering terlibat tawuran, juga sering dihadapi oleh para guru dan pegawai. Meski begitu, soal-soal semacam bisa diatasi dengan baik oleh para guru.
Ambrosius Pan mengakui, soal-soal demikian masih berada dalam batas kewajaran sebagai bentuk ekspresi dari generasi milenial sehingga berusaha disikapi oleh dirinya dan rekan-rekan guru secara baik dan bijak. Karena itu, pihak sekolah juga selalu berusaha menyediakan ruang berekspresi yang maksimal bagi para murid melalui berbagai kegiatan seperti olahraga, seni budaya, kepramukaan, dan berbagai kegiatan lainnya. Pihak sekolah juga selalu mendukung dan memfasilitasi para murid untuk mengikuti berbagai lomba dan pertandingan yang bisa diikuti. Dengan begitu, para murid memiliki tempat untuk aplikasi dan ekspresi bakat, minat, dan kemampuan mereka.
Para murid juga memiliki ruang untuk mengembangkan kepemimpinannya melalui berbagai kegiatan OSIS.
Yang sebenarnya menjadi persoalan utama di SMAN 1 Fatuleu, jelas Ambrosius, adalah ketersediaan air bersih. Sebab dengan jumlah murid dan guru yang hampir 900, kebutuhan air bersih setiap hari sangat tinggi.
“Dengan volume air PAM yang tidak lancar, kita tampung tapi tidak cukup untuk kebutuhan. Kita juga beli air tangki tapi ternyata sangat menguras biaya.” kata Ambrosius.
Setiap hari, minimal 1 tangki air berukuran 3000 liter dibeli oleh pihak sekolah. Bak penampung pada 22 kamar WC mesti selalu berisi air. Ambrosius menjelaskan, pihaknya memang selalu memastikan agar setiap bak penampung tidak kosong, dan sebenarnya air yang dibeli sudah cukup untuk kebutuhan kamar mandi, tetapi sering dikuras habis saat sore hari oleh para murid yang ke sekolah untuk merawat kebun sekolah.
“Sejak kita punya program vokasi akademik ini, kita rasakan bahwa air yang kita siapkan selalu cepat habis. Anak-anak kita datang sore hari, kalau air di bak sudah habis maka mereka ambil di kamar WC. Akhirnya kosong sehingga pagi esok harinya saat jam sekolah dulu baru kami sesuaikan untuk isi lagi. Nah, takutnya ada tamu yang datamg awal sebelum pas jam sekolah, air di kamar mandi tentu masih kosong. Tetapi kami yakin bahwa tamu pasti memahami kondisi kami di sekolah. Jadi kalau kelalaian kita tidak isi air di bak, itu sebenarnya tidak ada.” jelas Ambrosius.
Ambrosius juga menjelaskan, saat ini pihak sekolah sementara bekerjasama dengan komite sekolah untuk membuat 2 buah sumur bor sehingga kekurangan air untuk kebutuhan kebun sekolah saat musim panas dapat dipenuhi.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, lewat sinergi antara dana BOS dan komite kita bisa menghasilkan 2 sumur bor di sekolah ini. Sehingga tanaman yang kita tanam saat ini bisa kita lestarikan. Kebutuhan air untuk kebersihan ruangan dan kamar mandi juga cukup kalau air memadai.” harap Ambrosius.
Sumber: suaraamfoang.com, oleh Simon Seffi.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
“Bekal Sehat dari Rumah, Energi Hebat di Sekolah!”
SMA Negeri 1 Fatuleu, Kabupaten Kupang – NTT Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam mewujudkan generasi sehat dan berkarakter melalui Gerakan 7 Kebiasaa
Perancangan Visi dan Misi Sekolah
Dalam In House Training (IHT) hari Kedua yang berlangsung pada Kamis, 15/01/2026. Kepala Sekolah bersama para Guru dan Pegawai mencoba membentuk kelompok dan membahas Visi dan Misi yang
“Wakasek Kurikulm Pimpin Panen Perdana Mentimun di SMANSAFAT”
Oelmasi, 21 November 2025 , suasana ceria menyelimuti lahan potensi lokal milik Kelas X D SMA N1 Fatuleu kab.Kupang, NTT. Wakasek Kurikulum, Ester Liu S.Pd, terlihat melakukan panen &
PANEN PERDANA POTENSI LOKAL SMANSAFAT MERIAHKAN PERTEMUAN MKKS KABUPATEN KUPANG
Oelmasi,NTT – SMA Negeri 1 Fatuleu (SMANSAFAT) menjadi tuan rumah kegiatan pertemuan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA, SMK/SLB se-Kabupaten Kupang pada hari ini, Rabu, 1
Kelas XII B SMAN 1 Fatuleu Panen Kedua Sayur Kangkung Organik
Seluruh siswa kelas XII B di SMAN 1 Fatuleu didampingi wali kelas melaksanakan panen kedua sayur kangkung organik yang ditanam di bedeng kebun kelas. Kegiatan panen yang dilaksanakan p
Merokok Dapat Menyebabkan Kualitas Anak Bangsa Menurun
Tampilan masa depan bangsa ditentukan oleh bagaimana kondisi dan tampilan generasi muda hari ini. Generasi muda menjadi komponen penting yang perlu dilibatkan dalam pembangunan sebuah b
Berpendidikan Saja Tidak Cukup Tanpa Etika
Mengapa pendidikan sangat penting? karena dengan pendidikan manusia akan menjadi lebih baik dan berkarakter. Menurut Ki Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional) menjelaskan
Guru Hebat
Tak pernah terbayang Dapat bertemu denganmuGuru hebat berhati malaikat Bukan siapa-siapaHanya orang asing Yang selalu ada saatku patah harapan Terpendam sejuta kataTak bisa kuucapAku
Marilah Kita Berhamba Kepada Sang Anak
Berbagai pemikiran yang mewarnai penyelenggaraan pendidikan Nasional saat ini menempatkan anak bangsa pada posisi istimewa, posisi yang setara dengan guru dan orang tua sebagai ujung to
Cara Belajar yang Efektiv dan Efisien
Belajar pagi para siswa hingga mahasiswa adalah sebuah kewajiban sebagaimana predikatnya sebagai pelajar. Pelajar yang baik tentunya harus belajar yang baik, belajar yang baik adalah be





